Kenapa HARUS dengan "(ILMU) NAHWU" ?
Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad ad-Du'ali (wafat 69 H), bahwasanya ketika ia sedang ber-jalan-jalan dengan anak perempuannya pada malam hari, sang anak mendongakkan wajahnya ke langit dan memikirkan tentang indahnya serta bagusnya bintang-bintang.
Kemudian ia berkata, (Ù…َا Ø£َØْسَÙ†ُ السَّÙ…َاءِ) “Apakah yang paling indah di langit?” Dengan mengkasrah hamzah, yang menunjukkan kalimat tanya.
Kemudian sang ayah mengatakan, (Ù†ُجُÙˆْÙ…ُÙ‡َا ÙŠَا بُÙ†َÙŠَّØ©ُ) “Wahai anakku, Bintang-bintangnya”. Namun sang anak menyanggah dengan mengatakan, (اِÙ†َّÙ…َا اَرَدْتُ التَّعَجُّبَ) “Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”.
Maka sang ayah mengatakan, kalau begitu ucapkanlah, (Ù…َا اَØْسَÙ†َ السَّÙ…َاءَ) “Betapa indahnya langit.” Bukan, (Ù…َا اَØْسَÙ†ُ السَّÙ…َاءِِ) “Apakah yang paling indah di langit?” Dengan memfathahkan hamzah…"
********
Dikisahkan pula dari Abul Aswad ad-Du'ali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat at-Taubah ayat 3 dengan ucapan,
(Ø£َÙ†َّ اللهَ بَرِىءٌ Ù…ِّÙ†َ الْÙ…ُØ´ْرِÙƒِينَ ÙˆَرَسُولِÙ‡ُ)
dengan mengkasrahkan "huruf lam" pada kata rasuulihi yang seharusnya di-dlommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya...” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan.
Seharusnya kalimat tersebut adalah, (Ø£َÙ†َّ اللهَ بَرِىءٌ Ù…ِÙ†َ الْÙ…ُØ´ْرِÙƒِينَ ÙˆَرَسُÙˆْÙ„ُÙ‡ُ) “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad ad-Du'ali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula Daulah Islam.
Kemudian hal ini disadari oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib RA, sehingga ia "mem-perbaiki keadaan" ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (penyandaran), kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad ad-Duali, (اُÙ†ْØُ Ù‡َذَا النَّØْÙˆَ) “Ikutilah jalan ini”.
Dari kalimat inilah, ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan Ilmu Nahwu. (Arti nahwu secara bahasa adalah arah).
*karenanya saya sangat khawatir berbicara Al Qur'an dan hadist tanpa melalui ahlinya, apalagi hanya copas dari internet.
Sumber:
Gus Mustaqim Ashif
-------------------------------------------------
PENDAFTARAN SANTRI BARU
PONDOK PESANTREN AL-IKHLAS
PATI KOTA
PATI KOTA
-------------------------------------------------
*Alasan Nyantri - Prosedur - Administrasi
--------------------------------------------
KENAPA HARUS DENGAN "(ILMU) NAHWU" ?
Reviewed by Unknown
on
13.08
Rating:
Reviewed by Unknown
on
13.08
Rating:






Tidak ada komentar: